Tinutuan, Akankah Sirna?

3 comments 623 views

Masakan tradisional Manado dan juga Sulawesi Utara ini memang enak dan menyehatkan. Di luar Sulut orang lebih mengenal dan biasa menyebutnya dengan “bubur Manado”. Isinya adalah campuran beberapa jenis sayuran dan bahan pokok seperti beras, ubi, jagung, kangkung, daun gedi, bayam dan lain – lain. Di proses dengan cara tertentu sehingga terlihat sebagai bubur dengan berbagai macam sayuran. Namun jangan salah sangka, meskipun Tinutuan memiliki banyak bahan sayuran, masakan tradisional ini tak kalah lezatnya dengan masakan – masakan jenis lainnya bahkan masakan modern sekalipun. Itu jika diolah dengan benar dan sesuai dengan resep aslinya.

Photo credit: thegreenpensieve.com

Photo credit: thegreenpensieve.com

Namun, entah mengapa akhir – akhir ini saya biasa mendapatkan citarasa Tinutuan yang banyak terdapat di warung – warung sederhana atau rumah makan di seputaran Manado sajiannya mulai kurang pas, atau tidak sesuai dengan kemauan dan lidah saya. Terkadang kuah terlalu encer, bahan kurang lengkap, dsb. Saya masih ingat bagaimana rasanya sajian Tinutuan yang dulu biasa saya makan bahkan terkadang sudah menjadi kebiasaan untuk menu sarapan pagi karena rasanya yang membuat ketagihan.

Di beberapa tempat masih ada yang menjual Tinutuan dengan rasa yang lumayan lezat namun mungkin tidak sebanyak yang bisa saya temukan dengan cita rasa yang telah saya sebutkan seperti yang sudah saya paparkan di paragraf sebelumnya. Bahkan area yang sudah terkenal biasa menjual Tinutuan di Manado pun rasa “asli”nya mulai tergeser.Adaapa gerangan? Apakah mungkin ada pergeseran antara nilai nilai budaya, bisnis dan modernisasi zaman?

Akan sangat disayangkan apabila kelak Tinutuan sebagai masakan tradisional daerah Sulawesi Utara seakan dirampas daerah atau bahkan negara lain dengan perlakuan yang lebih masakan-awi, mungkin dengan mendirikan konsep usaha franchise atau dijual di tempat-tempat yang lebih elegan dengan persaingan yang sifatnya lebih kompeten profesional. Apapun alasannya, saya berharap agar masakan ini dapat selalu dilestarikan, dibuat sesuai dengan kondisi bagaimana resep tradisional tinutuan seharusnya. Yang sewajarnya, bukan sekedarnya. Bukan malah encer kuahnya atau tawar rasanya, terlalu banyak bumbu penyedap, kurang bahan utamanya, dan sebagainya. Saya sangat berharap bahwa tradisi masakan Indonesia, salah satunya Tinutuan atau yang dikenal secara nasional sebagai “bubur Manado” tidak akan sirna di kemudian hari.

author
Author: 
    Saya suka menulis. Terkadang saya tidak bisa merangkai kata yang cukup tepat untuk dibaca dan dimengerti. Tetapi saya memiliki niatan dari tulisan saya yang terkadang mungkin susah untuk dikatakan hanya dengan kata-kata. Meskipun begitu, saya berharap banyak orang mengerti dengan maksud saya.
    1. author

      bro eser5 years ago

      Kalau tinutuan di Manado, so nda pernah rasa bos… Kalo di Amurang masih yummy, masih seperti dulu lagi bumbu-bumbunya
      bro eser´s last blog post ..Senangnya Bisa Menyebarkan “Virus” Dengan Bantuan Telkomsel

      Reply
      • author
        Author

        argytrans5 years ago

        Ahaha…. mungkin qta perlu pasiar2 ke amurang. Kopdar berikut bole sto mo beking di Amurang, supaya bole mo rasa itu Tinu Amurang bgmana..hehe. Yup, klu di daerah luar manado seperti juga Tomohon, Tondano masih sadap.. Mar di Manado sendiri susah mo cari tampa tinu yang enak, padahal orang dari luar sulut kan taunya ‘bubur Manado” ya dari Manado. :))

        Reply
    2. author

      Jelajah IPTEK5 years ago

      banyak ilmu dan wawasan yang saya dapatkan disini, khususnya yang aku baca saat ini tentang tinutuan, terimakasih dan salam ukhuwah wahai sauadaraku.
      Jelajah IPTEK´s last blog post ..Budidaya Peternakan Tentang Domba

      Reply

    Leave a reply "Tinutuan, Akankah Sirna?"

    CommentLuv badge
    [+] kaskus emoticons nartzco