Wawasan Guru PLB harus di Inklusifkan agar yang nakal menjadi “Pintar”

SLB N Borong

ABK,PLB

Guru Pendidikan Luar Biasa (PLB) adalah Guru-guru yang mendedikasikan diri untuk mengabdikan suatu profesi bagi Anak berkebutuhan khusus. Sebagian “kemungkinan” ada sedikit wawasan masyarakat awam berpikir Guru PLB adalah guru yang di poles hanya untuk Guru-guru yang memberikan pelayanan bagi kalangan Cacat Mental, Emosional, dan fisik. Padahal, akan lebih baik lagi jika pendidikan, Guru Pendidikan Luar Biasa itu menjadi satu dasar terhadap para pendidik untuk Menunjang akan Ketercapaian kompetensi anak berdasarkan karakter yang selama ini unik dirasakan.

Mengapa “Wawasan Guru PLB Harus di Inklusifkan” ? karena survei membuktikan dibalik anak yang nakal ternyata Menyimpan kepintaran.

Pendidikan sangat penting dalam menunjang keberhasilan setiap individu agar menjadi pribadi yang mandiri. Faktanya, masih ada anak-anak yang secara mental IQ yang normal masih saja marak mengalami kesalahan  dalam mengambil keputusan atau secara bahasa kasar Tidak naik kelas. kasihan kan T_T.

ada satu pengalaman dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal). Melalui program ini banyak di rasakan bahwa ternyata masih banyak para pendidik yang kurang bijaksana dalam menglebelkan anak. Cenderung dialami, sebagian besar guru menilai Kompetensi berdasarkan tingka laku mereka, ( nakal bukan berarti bodoh) melainkan bagaimana cara kita sebagai guru menaggulangi itu semua agar bisa menyelaraskan dengan karakter pada pembentukan penciptaan keindahan serta pengarahan kedunia yang lebih berbakat. Pendekatan yang baik pasti akan berujung pada keberhasilan Pendidik.

KENAPA GURU PLB HARUS DI INKLUSIFKAN ?

Guru PLB Menilai serta mengukur para peserta didik lebih pada pribadi yang paling dalam. Jika anak itu Nakal ? perhatikan kenakalannya ?

jika anak itu bodoh ? kenapa sampai dia bodoh ? cari tahu apakah ada kesulitan atau mungkin ada faktor yang mungkin mengurangi prestasi nya?

Tulisan ini di artikelkan bagi  para pendidik. Mungkin saja kita sering keliru dalam mengukur kopetensi anak, dikarenakan dikejar dengan administrasi sekolah serta pencapaian kurikulum yang semakin tidak sesuai dengan tingkat kebutuhan anak.  Seorang Guru terkadang sudah tidak lagi melihat mereka berdasarkan kebutuhan, melainkan hanya pada sampel prilaku secara spontan.

author
Author: 

Leave a reply "Wawasan Guru PLB harus di Inklusifkan agar yang nakal menjadi “Pintar”"

CommentLuv badge
[+] kaskus emoticons nartzco